Keterkaitan Karakteristik, Strategi Pengembangan, dan Pengukuran Kinerja dalam Pengembangan Industri Kecil Menengah Agro

Oleh : Totok Pujianto
Email : totok.pujianto@unpad.ac.id

Tulisan ini tercantum dalam Prosiding Seminar Agroindustri dan Lokakarya Nasional FKPT-TPI Program Studi TIP-UTM, 2-3 September 2015

ABSTRAK

Industri Kecil Menengah (IKM) yang memiliki peranan penting dalam perekonomian suatu negara banyak menghadapi kendala dan tantangan. IKM perlu menjadi industri yang kokoh dan berkembang karena peranannya itu. Adanya keragaman kendala dan tantangan di antara IKM disebabkan oleh keragaman karakteristik IKM. Dalam pengembangan IKM, diperlukan strategi pengembangan IKM yang sesuai dengan karakteristik IKM tersebut. Untuk mengetahui keberhasilan strategi pengembangan IKM memerlukan suatu sistem pengukuran kinerja sesuai strategi pengembangannya. Subsektor IKM agro di Indonesia merupakan subsektor prioritas karena berperan penting dalam menghadapi peningkatan kebutuhan pangan. Banyak perusahaan yang tergolong dalam subsektor IKM agro dan memiliki karakteristik khusus karena kendala dan tantangannya yang lebih spesifik. Di dalam subsektor IKM agro di Indonesia pun ditemukan perbedaan karakteristik antara satu dengan yang lain karena keberagaman IKM agro. Oleh karena itu kajian strategi pengembangan IKM agro di Indonesia dan pengukuran kinerjanya dikaitkan dengan karakteristik IKM agro, perlu dilakukan sehingga tersusun sebagai suatu kerangka pengembangan IKM agro.

Kata Kunci : Subsektor IKM agro, karaktersitik IKM agro, strategi pengembangan IKM, sistem pengukuran kinerja IKM

Tulisan selengkapnya …..

 

KAJIAN SUBSIDI BERAS UNTUK RAKYAT MISKIN DI KOTA BANDUNG

KAJIAN SUBSIDI BERAS UNTUK RAKYAT MISKIN DI KOTA BANDUNG

Oleh :
Totok Pujianto, Roni Kastaman, Ahmad Thoriq, Nur Syamsiyah, Erika Agustina
e-mail : totok.pujianto@unpad.ac.id
Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran

Paper ini disajikan dalam Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Pedesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VI Tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, pada tanggal 24-25 November 2016 di Gedung Graha Widyatama (Auditorium) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

ABSTRAK

Keluarga miskin di Kota Bandung masih memerlukan bantuan yang berkelanjutan karena tingkat pendapatan yang rendah dengan sumber penghasilan yang tidak pasti dan memerlukan dana untuk pemenuhan fisiologis. Bantuan beras untuk rakyat miskin (Raskin) ternyata masih memerlukan biaya agar sampai ke penerima, yaitu untuk biaya tebus dan angkut sebesar Rp. 2.100/ kg beras. Untuk kelancaran distribusi Raskin Pemkot Bandung menanggung biaya tambahan tersebut sebagai subsidi. Seiring berjalannya waktu nilai total subsidi terjadi perubahan yang disebabkan oleh perubahan jumlah penerima karena sensus BPS Tahun 2015, dan perubahan beberapa komponen biaya pokok operasional pengangkut barang. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai kebutuhan Subsidi Raskin dan kebutuhan anggaran untuk tahun mendatang. Kajian ini bertujuan memberi masukan terhadap penentuan besarnya subsidi sekaligus juga memrumuskan rekomendasi upaya perbaikan penyaluran subsidi Raskin di Kota Bandung. Kajian ini bersifat deskriptif analitik, yang bertujuan untuk mendapatkan penjelasan secara komprehensif tentang subsidi Raskin. Dalam kajian ini digunakan beberapa metode analisis antara lain : Analisis cepat (Rapid Analysis), Review historis, Analisis sebab akibat, dan Cross sectional study. Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan metode triangulasi yaitu penggabungan metode survei untuk mendapatkan gambaran umum dan wawancara mendalam untuk mendukung dan memperkuat hasil temuan dalam
survei. Data dan informasi diperoleh dari sumber baik yang bersifat primer maupun sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsidi Raskin secara gratis sudah tepat sasaran dan layak untuk dilanjutkan. Besaran nilai subsidi yang harus diberikan untuk kelompok sasaran penerima Raskin adalah sebesar Rp. 2,250 /kg yang terdiri atas harga tebus raskin di titik distribusi Rp. 1600/kg dan biaya distribusi ke titik bagi adalah sebesar Rp. 650,-/kg. Hasil kajian juga menyimpulkan bahwa jumlah beras yang diterima RTS sebagian besar di bawah 15 kg, dengan rata-rata 5.49 kg/RTS-PM/bulan. Rata – rata total konsumsi beras RTS-PM adalah 27.30 kg/Kapita/bulan. Rata – rata kontribusi Raskin terhadap total konsumsi beras di Kota Bandung adalah sebesar 20.11% Kondisi ekonomi KK miskin hanya sedikit berubah yang dapat dilihat dari rata – rata pengeluaran perbulan RTS-PM pada tahun 2014 adalah sebesar Rp. 842.900 /bulan sedangkan pada tahun 2016 sebesar Rp. 972.000/bulan namun masih dibawah UMR Kota Bandung sebesar Rp. 2.626.940,- yang merupakan standar hidup layak suatu keluarga.

ABSTRACT

Poor families in the city of Bandung still require ongoing assistance for low income with an uncertain source of income and need funds for the fulfillment of physiological. Help rice for the poor (Raskin) it still requires a fee in order to get to the receiver, which is to redeem and transportation costs Rp. 2,100 / kg of rice. For a smooth distribution of Raskin Bandung municipal government bear the additional cost as subsidy. Over time the value of the total subsidy changes caused by changing the number of recipients for BPS 2015 census, and the changes in the components of the operational cost of transporting goods. Therefore, it is necessary to study the need for subsidies Raskin and budget needs for the coming year. This study aims to provide input to the determination of the amount of subsidies as well as efforts to improve distribution memrumuskan recommendations subsidy Raskin in Bandung. This is a descriptive analytic study, which aims to get a comprehensive explanation of the subsidy Raskin. In this study used several methods of analysis include: rapid analysis (Rapid Analysis), Review of historical, causal analysis, and cross sectional study. Test the validity of the data in this study using a triangulation method is the incorporation of survey methods to get a general overview and in-depth interviews to support and reinforce the findings of the survey. Data and information obtained from sources both primary and secondary. The results showed that the subsidy for free Raskin has been right on target and deserves to be continued. The value of the subsidy should be given to groups of beneficiaries Raskin is Rp. 2,250 / kg consisting of price raskin redeemed at a distribution point Rp. 1600 / kg and distribution costs to point to is the Rp. 650, – / kg. Results of the study also concluded that the amount of rice received RTS mostly under 15 kg, with an average of 5:49 kg / RTS-PM / month. Average – Average total rice consumption RTS-PM was 27.30 kg / capita / month. Average – Average Raskin contribution to the total consumption of rice in the city of Bandung is 20:11% Economic conditions have changed little poor families that can be seen from the average – average monthly expenditure RTS-PM in 2014 was Rp. 842.900 / month, while in 2016 Rp. 972,000 / month but still below the minimum wage Bandung Rp. 2,626,940. which is a standard of living worthy of a family.

Tulisan selengkapnya…..

pelajaran hari ini

pelajaran yang sangat berharga adalah bagaimana kita harus memanfaatkan waktu sebaik baiknya.

Jangan sampai setiap detik berlalu tanpa ada karya yang bernilai.

Waktu memang terus berjalan dan kita akan bertambah usia

Ketika sudah mulai muncul kesadaran tentang arti pentingnya waktu, sering kita terlambat menyadarinya

Puasa

Image

Kenangan setelah lebaran tiga tahun silam. Teman kuliah memberi pengalaman mati suri. Panjang lebar bercerita tentang pengalaman mati suri itu. Totok Sumaryanto, nama yang separuh mirip, ceria, energik, renyah, yaah segala sesuatu yang melekat baik pada beliau. Di esok harinya sambil sarapan, cerita spiritual itu dilanjutkan , dan pada ujung akhirnya dia sampaikan tidak lama lagi diantara kita bakal terpanggil. Jantung berdegup, kalau itu benar maka satu diantara kira kira sepuluh orang di ruangan itu akan meninggalkan kami. 

Tiga puluh lima hari kemudian terkabarkan, bahwa dia yang bicara yang terpanggil. Firasat…, selamat jalan. firasat…. surga menyambutmu. Sesungguhnya semua mahluk yang berasal dari Allah SWT maka dia akan kembali kepada Nya.

Ghibah ?

Membicarakan (menggunjing) tentang keburukan orang lain tidak di hadapan orangnya merupakan perbuatan dosa. Bahkan disebutkan bahwa dosa orang yang dibicarakan akan berkurang karenanya sekaligus “berpindah” kepada orang yang menggunjing.

Buat introspeksi diri kita ; jika kita merasa nyaman atau puas dengan menggunjing, maka hati kita belum bersih benar. Akan lebih baik kita berlatih untuk menyampaikan tentang kebaikan seseorang, dan merasa nyaman dengan itu. Jika masih belum bisa maka berlatihlah untuk diam.

Bagaimana mengukur diri kita ? Bagi yang mendengar gunjingan, jika kita merasa resah maka itu menunjukkan bahwa hati kita ingin bersih, sebaliknya jika kita merasa nyaman dengan mendengar gunjingan maka mungkin hati kita belum bersih benar.

cepat cepat sekali

teknologi lari semakin cepat
fasilitas tersedia semakin banyak
orang seperti berlomba dengan keharusan
seperti tak ingin melewatkannya
saat usia semakin senja

ketika juga perlu ingat
ada hidup setelahnya
masa ini tidak lebih berharga
dari masa selanjutnya

Kualitas : tidak hanya sekedar menilai produk akhir

Membicarakan kualitas tidak hanya menilai apakah produk akhir sudah sesuai dengan harapan (meski itu menjadi tujuan akhir). Namun ternyata lebih tepat kalau kita mau memperhatikan bagaimana awal dan proses membuat produk akhir tersebut.

Berbagai konsep tentang mengelola kualitas mengemuka hingga menjarah ke mana mana. Ada istilah TQM, Six Sigma, Kaizen, dan lan lain. Berikut saya sampaikan paparan dari ahlinya.